Mengemasi pikiran yang berserakan di beranda senja. Aku melangkah ke timur menuju matahari, yang mungkin ku temui lagi esok, atau hari ini hari terakhir perjumpaan kami.
Waktu terus memunguti jejak-jejakku dan menyimpannya dalam kotak-kotak kenangan yang tersusun rapih menurut warna dan aromanya masing-masing. Masihkah akan sempat kubuka kembali memoar itu?
Semoga saja!
Selasa, 31 Januari 2012
Senin, 30 Januari 2012
Doa 1
tuhan
di malam sunyi
di batas ketidaksadaranku
raihlah tanganku tuntun langkahku;
yang t"lah jauh menyimpang
kembali ke jalan itu
jalan menuju kekasimu, kekasihku
doaku
mengetuk-ngetuk di gerbang altarmu
dengan segala kepapaan, kenistaan
kebusukan dan kepurapuraanku
yang sulit kutanggalkan
jangan campakkan aku
hiraukan aku
kasihi aku
ampuni
segala kedurjanaanku
biarkan aku berada lajur kekasihmu
cukup kiranya bagiku
di malam sunyi
di batas ketidaksadaranku
raihlah tanganku tuntun langkahku;
yang t"lah jauh menyimpang
kembali ke jalan itu
jalan menuju kekasimu, kekasihku
doaku
mengetuk-ngetuk di gerbang altarmu
dengan segala kepapaan, kenistaan
kebusukan dan kepurapuraanku
yang sulit kutanggalkan
jangan campakkan aku
hiraukan aku
kasihi aku
ampuni
segala kedurjanaanku
biarkan aku berada lajur kekasihmu
cukup kiranya bagiku
Anjeun
: Ka Kang Darso
anjeun
nu ngahaleuang
mamapay angin ngawurkeun kaendahan kamadhab papat
wirahama nu ngagalura
ngaguratkeun kaasih jeung kanyaah na keketeg jantung
... kisunda dangiang
kisunda tandang na tungtung sora anjeun
haturan
salaksa bentang pikeun anjeun nu geus kumawula
mugia sagala talajak, rengkak jeug karya anjeun natapak
pikeun anak incu kisunda
meh reueus kana dirina
nu ngahaleuang
mamapay angin ngawurkeun kaendahan kamadhab papat
wirahama nu ngagalura
ngaguratkeun kaasih jeung kanyaah na keketeg jantung
... kisunda dangiang
kisunda tandang na tungtung sora anjeun
haturan
salaksa bentang pikeun anjeun nu geus kumawula
mugia sagala talajak, rengkak jeug karya anjeun natapak
pikeun anak incu kisunda
meh reueus kana dirina
Ajari Aku
ibu
ajari aku cinta sejati;
mencinta berarti memberti, memberi tantanpa harap kembali
apalagi menuntut
tanah
ajari aku kesabaranmu dalam mencinta
sehingga kau ridhakan lembutnya akar menembus setiap ari mu
Dia
membenamkan wajahnya kedadaku...air matanya seperti hujan pertama yang
datang dengan tibatiba, mebasahai baju merembas kehatiku.
tak ada katakata, karena katakata telah menjadi puisi reranting yang jatuh di hempas angin,pedih dan pilu.
" Aku tak sanggup lagi mas!"
Suaranya menggantung dipepohon yang mulai sewarna hitam di telan sisa senja yang kelam...
Tangismu, tangisku, dan rinai hujan bersahutsahutan...
"
tak ada katakata, karena katakata telah menjadi puisi reranting yang jatuh di hempas angin,pedih dan pilu.
" Aku tak sanggup lagi mas!"
Suaranya menggantung dipepohon yang mulai sewarna hitam di telan sisa senja yang kelam...
Tangismu, tangisku, dan rinai hujan bersahutsahutan...
"Memaknai kehadiranmu di hatiku,memaknai hadirku di hidupmu.
Hubungan (asmara) tidak selalu cinta, tapi cinta menghubungkan segala pertalian dengan kasih juga asmara.
Saat kehilangan sesorang yang terbiasa ada (terjalin hubungan) dengan
kita pasti menyakitkan, tapi itu lagilagi belum tentu cinta. bisa jadi
hanya rasa kehilangan kebiasaankebiasaan saat dia bersama kita..."
Naha (Ah Teu Naha)
naha...?
emh...tapi teu naha,
naminage jalmi...
janten kumaha atuh?
ah teu kukumaha...
da tos biasa
tumarima we bari jeung usaha ngadalikeun sagala rasa...
"dina dedek cikopi dedek ingetan anjeun
minuhan lalangit hate"
"
emh...tapi teu naha,
naminage jalmi...
janten kumaha atuh?
ah teu kukumaha...
da tos biasa
tumarima we bari jeung usaha ngadalikeun sagala rasa...
"dina dedek cikopi dedek ingetan anjeun
minuhan lalangit hate"
romantisme kopihitam dan asap roko
romantisme kopihitam dan asap roko
bersetubuh di ladang bintangbintang
aku menggembala kenang
dalam remang
Takdir
siapa yang lebih kuasa,
takdir yang memisahkan kita
atau cinta yang terlanjur mengakar di dada?
siapa yang lebih kuasa,
kau bukan milikku
atau hati yang selalu terjaga mengingatmu?
bila saja aku kusa atas hatiku,
akan ku bredel ia
seperti rezim penguasa membredel media yang menyinggung kekuasaannya.
atau kucampakkan ia
seperti anakanak jalanan yang di campakan nasib dan negara
aku tak kauasa atas hatiku
biarkan ia menggelandang memunguti tapak demi setapak nasib mencinta
tanpa mendamba
melangakah meski gontai
menikmati setiap perih dan bahagia
meski hanya longitudinal
Balada Tangis Negeri
kemana?
kucari lagi jejakjejak seri negri ini
setiap petak, terjajah amarah
debatdebat, umpatmengumpat, sumpahserapah
wajahwajah tegang, garang
uraturat leher mengerang
tangantangan mengepal
siap perang, siap serang
untuk siapa?
melawan siapa?
untuk pembernaran kebenaran yang kau sangka benar?
tidakkah jerit sakit yang tersakiti ulahmu
menyakitkan hatimu?
tidakkah erangan derita dari perbuatanmu
meranakan nuranimu
atau kau tak lagi temukan nurani
seperti tak kutemukan
jejak seri negeri
ini lagi.
karena ulahmu
ulahku
ulah kita
yang semakin picik saja.
(kembali negeri ini menangis)
kesendirian
Merangkul jarum jam di bawah bayang rembulan, tersedu aku menangis,
"Janganlah melangkah, aku gamang ditinggal sendiri dalam kesunyian ini!"
Kemana Harus Ku Larung Rindu?
Kemana harus ku larung rindu?
Sedang segala sungai yang bermuara padamu kerontang
Saat seperti ini aku ingin menjadi batu
Mengabdikan segala rindu
Pada diam
Sendirian
"hidup merupakan perjalann. dan mati adalah akhir dari perjalanan ragawi untuk menyatu dan menjadi bagian dari siklus bumi (kembali ke tanah). sedangkan ruh akan terus hidup, dan itulah sesungguhnya hidup. karena hidup yang sekarang ini sesungguhnya mimpi, dan akan bangun dan tersadar pada saatnya nanati, setelah mati."
rindu kemarau
udara kering
jrum jam mnggigil
desah angin malas
mnggapai tirai kmar
aku mengeja waktu
seperti mengeja namamu
rindu
Penantian Itu
Ada sebongkah rindu resah
menyumpal jantung
menahan keluar nafas
Sesak!
merekahlah segenap luka
seperti petakpetak sawah
dilumat kemarau
retak
keronta
Angin seperti belati pada luka menganga ini
dan lamatlamat senyummu
Serupa petir hujan pertama
Di jendela yang terbuka
Kunikmati tiap tetes gerimis
yang menyapa setiap retak
dan mengalir disegenap rekah
Luka semakin menganga
dicongkel belati sendiri
telanjang kaki
berjalan menelusuri rekah lukaluka
menapaki kembali setiap suara
perih
menyisit
menurih
aku hilang warna di laut warna
aku hilang suara dihingar suarasuara
tangantangan waktu meremas, mengihsap, seperti gurita
raga hilang daya
racunnya masuk kesetiap buluh, merayap di setiap serabut urat dan saraf
diberanda senja
aku sekarat
ditikam duka
Dengar
Dengar
ada gemuruh di ceruk sunyi;
berongga dan relungnya
seperti serabut akar--curam lembab
hitam
kelam
Di sanalah gelisahku lahir dan bertapa
Sepurba rasa
Selama cinta
Kepadamu
aku yang setia
belajar mencintaimu kurenangi makna sabar
dengan merindukanmu kulayari arti kesedihan
geletar menjadi gejolak,sayang
gejolak harus kuredam!
pendam
...
akulah pantai dengan pasir putih itu
dimana sauhmu sesekali kau lempar di pasirku
aku slalu menunggu
Dzikir Rindu
aroma tanah gerimis pertama
kelopak senyumu yg merekah
di jejak kaki bulan
kudzikirkn namanu di tepian malam
Ngopi 2
kulahap bulan sendiri
dengan secangkir kopi
pucat warnamu kucerna
dalam resah yang mengalir
dari luka ke luka
dari harap ke harap
siapa pencuri mimpimimpi malamku?
Ngopi
cur...ngebul...
haseup kopihideung hiber
mawa rasa nu katunda
na halis mega
kuring nyawang pameunteu salira
jungjunan
cinta, rindu dan kenyataan yang tak berfihak
aku harus melangkah, sayang
meski persimpangan ini terlau curam,
kelam
menapaki setiap jengkal duri bayangmu
rindu
luruh
mengaduh, jiwaku di cumbui keluh, sayang
tapi aku
harus terus berjalan,
menjauh dari jalanmu
waktu yang merambat akan membinasakanku, sayang
dan cinta ini bercakar tajam, beracun!
menacap, perlahan,
dalam
smakin dalam.
merelung dan meruang
redup redam
kelam
aku harus melangkah, sayang
meski jalan yang akan ku tempuh terlalu curam
tajam
kelam
aku harus melangkah!
Bulan
bulan
aku diperkosa cahyamu
persetubuhan yang panjang
rindu dan segan
tetaskan resah
di rahim malam
jarum jam tergeletak lunglai di pojok kelam
aku, kamu, malam, bulan
mengerang
dalam desah yang panjang.
aku merindukanmu sepanjang malam
Doa
tuhan
jodohkan aku dengan kebahagian
jalinkan serabutserabut pikiranku pada kebaikan
beri nada di jantuku nada cinta
hingga kuraih damai kasih
dan kesahajaan
smoga sikapku tak berlebihan!
Ngalageday
John Denver - Leaving on a Jet Plane,
kopi hideung jeung imut anjeun nu ngagantung na mega pulas perak
ngaranggeum hate
kumaha hibar anjeun jungjunan?
Gontai
Gontai
Telusuri jejakjejak langkahnya sendiri
di rongga malam
: Barangkali saja ada yang tersisa setelah gerimis membasuhnya!
Sementara itu
Jemari waktu
Meremas segala asanya yang menggantung di awan
Poros itu Kamu
langkah ini terhenti di jejak semula;
timur
barat
utara
selatan
tak kutemukan jejak senyummu
ujung malam melancip
menusuk rusuk
akankah kau datang hidupkanku lagi?
Kasihku seperti angin
Kasihku seperti angin.Meski musim berganti
Ia selalu ada
Tapi maafkan
Jika kasih ini terkadang menjadi badai
sebab tekanan udara mungkin tak merata
Kasihku seperti angin
Berhembus lembut
Sepoy dan
Sesekali menjadi badai
Bertahanlah!
Dengan begitu
Kita bisa lebih dewasa
Semoga!
Siapa Menanam Luka?
Dibasuh gerimis
Perihku kehilangan tangis
Siapa yang menanam luka?
Angin menahan nafasnya
Mengedap pergi
Meninggalkan jejak pada tetesan sisa hujan di dedaunan
Menggelepar, jatuh terkapar
Siapa yang menanam luka ini?
Jerit batin terus menggali tanya
Entah pada siapa
Senja pucat pasi
Wajah kenangan lebam
Ditinjua perih sendiri
Jamu Jiwa
:Kuakrabi Luka
Kuseduh
Seuntai senyum manismu
Merdu panggilmu
Sendu tatapmu,
Menjadi jamu
Semua keindahan dulu
Serupa sembilu kini
Menurih setiap perih
Merjam setia rekah, luka;
Smakin menganga
Smakin trbiasa jiwa bersenda
Dengannya
Kuseduh dan ku teguk senyum manismu
Bersama air mata
Meski ketir
Kuyakin akan lebih terbiasa jiwa
Semoga saja!
Elegi Senja
Perjumpaan satu dua kata
Di pelataran senja yang temaram
Hatiku lebam ditinju sakitmu, sayang
Segeralah sembuh
Agar senja kembali benderang, terang
Dan kita bisa bersenda lagi, d pematang
Mengeja angin yang lalulalang
Perjalanan
Langkah waktu,
Seperti siput - merayap;
Melahap stiap detak jantung
Menyasar stiap hela nafas
Menguliti segala selubung;
Gulita, remang
Dan teranglah segalanya,
Menjadi masa lalu
Sesekali ingin ku jegal waktu
Biar ia tak penggal sgala senangku
Sabtu, 28 Januari 2012
Untuk Ponakanku, Sayang (Selamat Ulang Tahun)
: Halizah Gita Andiana
Ketika langit menyempit
Tanah kerontang disesap kemarau panjang
Empat tahun yang lalu,
Tangis pertamamu memecahmecah resah
Yang berkecamuk di dadadada kami orangorang tuamu.
Empat tahun lalu
Saat segala warna menjadi merah,
Tangis pertamamu membentur dinding subuh
Dan sedih-bahagia mekar bersama fajar
Tak terasa
Empat tahun sudah,
Tangis dan tawa itu sahut menyahut di antara tangis dan tawa Penghuni rumah ini, anakku
Tak tereasa
Empat tahun kau kini
Selamat ku ucap untuk mu
Sebagai rasa bahaiga dan syukur ku
Semoga panjang usia
Sehat dan sejahtera.
Ketika langit menyempit
Tanah kerontang disesap kemarau panjang
Empat tahun yang lalu,
Tangis pertamamu memecahmecah resah
Yang berkecamuk di dadadada kami orangorang tuamu.
Empat tahun lalu
Saat segala warna menjadi merah,
Tangis pertamamu membentur dinding subuh
Dan sedih-bahagia mekar bersama fajar
Tak terasa
Empat tahun sudah,
Tangis dan tawa itu sahut menyahut di antara tangis dan tawa Penghuni rumah ini, anakku
Tak tereasa
Empat tahun kau kini
Selamat ku ucap untuk mu
Sebagai rasa bahaiga dan syukur ku
Semoga panjang usia
Sehat dan sejahtera.
Lelaki, Senja yang lembab, dan Sebatang rokok
Diisapnya dalamdalam;
Kesediiha, udarah basah, asap memuai
Masihkah harap melambai?
Kesediiha, udarah basah, asap memuai
Masihkah harap melambai?
Romansa Hujan Pertama
http://irfanelfikr.wordpress.com/http://www.facebook.com/profile.php?id=100001286570569Kuhitung gerimis dan desah angin
Di telapak waktu
Yang kian tua
Aku Slalu lupa usia
Bila hujan pertama tiba
Senja bercumbu dengan rerumput
Di antara kepak sayap kepinis
Dan kelepar pipit
Yang memapah anaknya pulang kandang
Aroma tanah, bau kayu basah
Memapahku mencumbui senyummu
Yang tak pernah dewasa
Di telapak waktu
Yang kian tua
Aku Slalu lupa usia
Bila hujan pertama tiba
Senja bercumbu dengan rerumput
Di antara kepak sayap kepinis
Dan kelepar pipit
Yang memapah anaknya pulang kandang
Aroma tanah, bau kayu basah
Memapahku mencumbui senyummu
Yang tak pernah dewasa
Jumat, 20 Januari 2012
Réalistis
"Mikir réalistis téh nyaéta kumaha carana pikiran urang dimaksimalkeun pikeun néangan Réal! (duit Arab)"
Ceuk Mang Juha ngomong teu sirikna ditompokeun kana ceuli pamajikanna, Ceu Emi anu murungkut nangkeup kantong hideung wadah baju. Di Bandara.
Ceuk Mang Juha ngomong teu sirikna ditompokeun kana ceuli pamajikanna, Ceu Emi anu murungkut nangkeup kantong hideung wadah baju. Di Bandara.
Puguh Gé!
Barang
rék nguyup kopi nu tinggal saparapatna, na ari gep téh gelas ngégél kana
biwir luhur. Nyeri tur reuwas. Gelas di betot, tapi orokaya gelas beuki
pageuh ngégélna. Lir gégép. Rék di betot deui sieun paragat biwir,
antukna di antep gelas ngagantél. Kuring jejeritan.
Aya kana tilu menitna manéna ngagantung. antukna guprak gelas murag bari ngosom nagagayem biwir. Manéhna nyarita.
"Geuleuh tuda aing mah! Tikamari hantem we gejog deui, gejog deui kukopi. Geus reged kieu awak teu ngabeu cai. Ari pikmin teu hiji-hiji acan nu jadi!"
Pokna bari acleng-aclengan dina kibot, terus ngajleng asup kana monitor.
Aya kana tilu menitna manéna ngagantung. antukna guprak gelas murag bari ngosom nagagayem biwir. Manéhna nyarita.
"Geuleuh tuda aing mah! Tikamari hantem we gejog deui, gejog deui kukopi. Geus reged kieu awak teu ngabeu cai. Ari pikmin teu hiji-hiji acan nu jadi!"
Pokna bari acleng-aclengan dina kibot, terus ngajleng asup kana monitor.
Bingung Neangan Judul
Alhalmdulilah.
Ti sapeupeuting macaan pikmin bari miharep aya ideu ngalalar. Antukna
jam satenga dalapan isuk-isuk, teu burung beubeunangan.Réngsé sa
pikmineun. Sanajan can dijudulan ogé leuheung, jongjon ari geus ngawujud
hiji carita mah.
Nyangsaya kana tembok, bari ramo mah napel kana kibod komputer. Uleng ngemutan pijuduleun. Pikmin can di 'Kirim' da can di judulan. Panon asa beuki peurih katojosan matapoé anu moncor tina jandela. Teu karasa. lenyap! Panon teu kawawa nahan serangan katunduh. Lep, sare kakedapan.
Kahudangkeun ku leungeun nu nyorosod tina kibod. Korajat beunta. Bari ngumpulkeun pangacian mencrong kana layar komputer. Hideung. Tuluy nga geubig-geubig emos. layar angger hideung.
"Gusti!Geuning, listrik beak pulsana!"
Batin ngajerit dengdam ka PLN.
Nyangsaya kana tembok, bari ramo mah napel kana kibod komputer. Uleng ngemutan pijuduleun. Pikmin can di 'Kirim' da can di judulan. Panon asa beuki peurih katojosan matapoé anu moncor tina jandela. Teu karasa. lenyap! Panon teu kawawa nahan serangan katunduh. Lep, sare kakedapan.
Kahudangkeun ku leungeun nu nyorosod tina kibod. Korajat beunta. Bari ngumpulkeun pangacian mencrong kana layar komputer. Hideung. Tuluy nga geubig-geubig emos. layar angger hideung.
"Gusti!Geuning, listrik beak pulsana!"
Batin ngajerit dengdam ka PLN.
Ngahuhuleng
Langit
angkeub, anging ngagelebug, tatangkalan rarampayakan. Ti beh kaler
guludug gegerem handaruan. Manéhna ngahuhuleng sanggeus maca surat ti
kulawarga kabogohna.
"Teu nyana kieu jadina. Asa dibentar gelap ngadéngéna!!", gerentesna.
Jelegér!
Jelegér! Gelap ngabéntar awakna.
Sabada Isa hujan teu raat. Manehna ngajanteng ngahuhuleng, nempokeun pasaran nu mawa awakna ka pajaratan.
@Banjar2011
"Teu nyana kieu jadina. Asa dibentar gelap ngadéngéna!!", gerentesna.
Jelegér!
Jelegér! Gelap ngabéntar awakna.
Sabada Isa hujan teu raat. Manehna ngajanteng ngahuhuleng, nempokeun pasaran nu mawa awakna ka pajaratan.
@Banjar2011
Saméméh Solat Ied
Di jajaran pangpayuna, katingal pa kuwu ngaharewos ka pengurus MU désa.
"Kuring ngawayuh deui..."
Sadaya musami ting raringeuh. Jempé sakedapan.
Pakuwu rungah ringeuh, rarayna pias. Nembe sadar réhna dina kerah tos digantelan pangerah sora.
"Kuring ngawayuh deui..."
Sadaya musami ting raringeuh. Jempé sakedapan.
Pakuwu rungah ringeuh, rarayna pias. Nembe sadar réhna dina kerah tos digantelan pangerah sora.
Ngahuleng Hareupeun Komputer
Jiga
cacing, jiga leunyay, jiga sireum, jiga hileud. Aksara ting karayap, ting
arutek. Kalaluar Tina panon, tina ceuli, tina irung terus marurag kana
lahunan. Ngabangké.
Teu hiji-huji acan pikmin nu jadi.
@Banjar2011.
Teu hiji-huji acan pikmin nu jadi.
@Banjar2011.
Getih Kurban
Sapi nu
panungtung téh ieu mah hade pisan. Kualitas nomer hiji jigana mah. Eta we
nya lintuh nya bersih awakna ogé. Bubuhan sapi pajabat. Antukna kécécét
sapi téh dipeuncit, getih mancur tina tikorona. Ti menit ka menit, getih
teu ieuh saat, geus lima belas menit, getih hayuh ngocor, jiga pancuran.
Jalma-jalma geus ting raringeuh bari ting kecewis. Hémeng. Waktu terus
ngeteyep, getih sapi geus samumuncangan ngeueum lembur.
@Banjar2011
@Banjar2011
Lami Ngantosan
Leguk,
leguk. Terus ngahuhuleng. Hawa panas nerekab tina beteungna, ngarayap
kana dada, tikoro, uraturat na jero irung tuluy kana panon. Bererbey
tina juru panonna, cimata campur getih ngalemereh mapay damis Halimah.
gubrag awakna ngagubrag bari nangkeup Cep Imron, anakna nungalelmpreh.
Botol Bayon ngagoler na biwir panto kamar, samping beureum nyangheuy kana dipan. Salamar surat na tonggongeun hiji indung nu nangkeup anakna, mateni diri.
"Ka Kang Sarji.Hampura abdi mawa si sujang balik ka kalanggengan. Abdi teu kiat pami langkung lami kedah ngantos akang nu taya wartoswartosna acan"
@Banjar2011
gubrag awakna ngagubrag bari nangkeup Cep Imron, anakna nungalelmpreh.
Botol Bayon ngagoler na biwir panto kamar, samping beureum nyangheuy kana dipan. Salamar surat na tonggongeun hiji indung nu nangkeup anakna, mateni diri.
"Ka Kang Sarji.Hampura abdi mawa si sujang balik ka kalanggengan. Abdi teu kiat pami langkung lami kedah ngantos akang nu taya wartoswartosna acan"
@Banjar2011
Gondewa Cinta
Dipentangkeun. Belesur.
"Ceb!"
Gondewa cinta kuring, nanceb pisan keuna kana jantung manehna.
Luk Neng Isah Ngeluk, getih maseuhan kabaya bodasna. Pisalakieun Neng Isah nua aya digigireunnana langsung ngarangkul.
***
Hawa tiis nyocogan sakuliah awak, tiris, linu. Sirah asa peupeus, beungeut asa enyor. Dada eungap. Bray panon, maksakeun beunta. Remengremeng, saurang lalaki ngabedega, uraturat leungeuna ranteng nandakeun tanagana pinuh, ngangakat watu sagede sirah. Hiuk di walangkeun ka lebah beungeut kuring.
"Gejret!!"
@Banjar2011
"Ceb!"
Gondewa cinta kuring, nanceb pisan keuna kana jantung manehna.
Luk Neng Isah Ngeluk, getih maseuhan kabaya bodasna. Pisalakieun Neng Isah nua aya digigireunnana langsung ngarangkul.
***
Hawa tiis nyocogan sakuliah awak, tiris, linu. Sirah asa peupeus, beungeut asa enyor. Dada eungap. Bray panon, maksakeun beunta. Remengremeng, saurang lalaki ngabedega, uraturat leungeuna ranteng nandakeun tanagana pinuh, ngangakat watu sagede sirah. Hiuk di walangkeun ka lebah beungeut kuring.
"Gejret!!"
@Banjar2011
Pati
Ceu Eni ngajengkat ti kamerna. Baketut haseum,
bari ngaleos narik simut. Pindah ka tengah imah, ngagoler hareupeun
tipi. Ngarasa kaganggu ku kerek salakina.
Sedengken di kamer Kang Darma terus sesegrok, sukuna kekejet. Tina irung jeung juru biwirna ngaley getih seger.
***
Ceu Eni nyegruk, nyuuh na runggunuk taneuh beureum. Hiliwir angin, seungit kananga, ting keresekna kararas, jeung girimis nungktun kahanjelu Ceu Eni, nyusul ka alam baka.
Ceu Eni palasatra na luhureun kuburan salakina.
@Banjar2011
Sedengken di kamer Kang Darma terus sesegrok, sukuna kekejet. Tina irung jeung juru biwirna ngaley getih seger.
***
Ceu Eni nyegruk, nyuuh na runggunuk taneuh beureum. Hiliwir angin, seungit kananga, ting keresekna kararas, jeung girimis nungktun kahanjelu Ceu Eni, nyusul ka alam baka.
Ceu Eni palasatra na luhureun kuburan salakina.
@Banjar2011
Kabinabinabina
Emod
cingogo di pipireun tajug, sisi sawah. Najan dua poe ieu hujan teu weleh
turun pasosore, tapi can ieuh sawah caian, reumis na tungtung jukut,
narangkod pindah kana bulu sukuna.
Jangkrik reang, awor jeung sora kararas nu cingkulisik katebak angin. Bari lelenggutan Emod terus bajoang ngaleupaskeun beuteungna tina kanyeri kualatan loba teuing barang dahar.
"Teu kirakira Emod...ngadurat teh atuh montong tukangeun tajuuuug!"
Ceuk hiji sora tankatingal jirimna.
Panon poe meletek ti tebeh wetan.
Kulisik Emod lilir, hawarhawar sora nu cing kecewis, beuki lila beuki atrat. Bray panona beunta.
@Banjar2011
Jangkrik reang, awor jeung sora kararas nu cingkulisik katebak angin. Bari lelenggutan Emod terus bajoang ngaleupaskeun beuteungna tina kanyeri kualatan loba teuing barang dahar.
"Teu kirakira Emod...ngadurat teh atuh montong tukangeun tajuuuug!"
Ceuk hiji sora tankatingal jirimna.
Panon poe meletek ti tebeh wetan.
Kulisik Emod lilir, hawarhawar sora nu cing kecewis, beuki lila beuki atrat. Bray panona beunta.
@Banjar2011
Teteleponan
“Halo, halo? Punten kapegat Néng, Si Mamah miwarang mésér pulsa, neleponna sambil jalan nya.” Ceuk Adi bari nyelapkeun hapé kana hélem. Gerung nyetater motor. Leok ka jalan muru konter.
Geus dua minggu kalakuan Adi kawas kieu teh. Méh unggal waktu
teteleponan, cicikikikan sakapeung nyanyanyian jeung nu ditelepona. Di
kamar, di dapur malah ka kamar cai gé ari keur kagok mah tara di tunda
ieuh. Sakapeung sok hémeng, naon atuh nu dicaritakeunana, teteleponan
sakitu lilana jeung mindeng deui. Samodel harita. Najan keur na motor
manehn teteleponan uplek pisan.
Aya kana dua puluh méteran deui mah Adi anjog ka konter téh. Bakating ku uplek, manéhna teu sadar nalika meuntas rél karéta, ti béh kalér, karéta ngelaksonan. “Kuoooong!” Sadar yén motorna keur aya di tengah rél, replék gas dikenyang satakerna gaur motor ngagerung tarik naker. Luncat. Gurudug karéta liwat. Adi salamet, teu kaletak ku hulu karéta, ngan orokaya, motor nyangsaya na juru sawah.
Na tungtung telepon sora awéwé rawahriwih nanya kunaon. Taya jawaban. Adi diparayang. tina jero hélem nyakclak getih seger.
“ Halo! Halo! Néng, geuning teu aya suantenan? Mana poék deui ieu teh. Pareum listrik rupina di bumi akang mah”
“Jelegér! Jelegér!” Sora jejelegéran alahbatan béntar gelap, minuhan dédéngéannana. Méh bareng jeung hiji sora nu handaruan.
“ Man robbuka?”
@Banjar. Oktober 2011.
Aya kana dua puluh méteran deui mah Adi anjog ka konter téh. Bakating ku uplek, manéhna teu sadar nalika meuntas rél karéta, ti béh kalér, karéta ngelaksonan. “Kuoooong!” Sadar yén motorna keur aya di tengah rél, replék gas dikenyang satakerna gaur motor ngagerung tarik naker. Luncat. Gurudug karéta liwat. Adi salamet, teu kaletak ku hulu karéta, ngan orokaya, motor nyangsaya na juru sawah.
Na tungtung telepon sora awéwé rawahriwih nanya kunaon. Taya jawaban. Adi diparayang. tina jero hélem nyakclak getih seger.
“ Halo! Halo! Néng, geuning teu aya suantenan? Mana poék deui ieu teh. Pareum listrik rupina di bumi akang mah”
“Jelegér! Jelegér!” Sora jejelegéran alahbatan béntar gelap, minuhan dédéngéannana. Méh bareng jeung hiji sora nu handaruan.
“ Man robbuka?”
@Banjar. Oktober 2011.
Pangantian
Nyngkaruk na tutunggul kalbu
Tatapa na tangkal rasa,
Disiraman rasa kucimata saban mangsa
Ka sono nu geus ngawahangan. Jungjunan
Na angin teu mere beja
Yen bangbara katalimbeng di taman nu tinggal seungitna?
Na girimis teu ngaharewoskeun ka sono
Nu leuwih rongkah manan gelap usum hujan meujeuhna?
Enggal Mulang jungjunan
12 Januari 2012
Cinta, Naha Anjeun Datang bet Telat?
"Naha urang tiasa hirup sasarengan kang?"
Pananya Neela ngagantung na mega beureum, angin mawa dalingding kapeurih ati ngusap dangdaunan. Holodo nyeuseup sakumna cai na kulit sawah; bareulah lir hate Neela Jeung Rafik.
Rafik males ngaranggeum ramo Neela nu cebrek kukesang tiis, geugeut lir layung jeung beureumna.
"Rupina urang..."
Panon Rafi peureum nahan cimata nu teu kabendung, maseuhan pipi. Ngaharep cimata bisa ngamalirkeun kapeurih ati nu ngageugeuh sukma. Angin ngarangkul jeung ngusapan maranehna nalika Rafi neruskeun ucapanana,
"Rup-ru-pi na urang kedah carita cinta urang,geulis..."
Teu kawawa cimata bedah ngabanjiran halodo panjang, Rafi jeung nela silih rangkul geugeut, tipepereket. Sagala rasa nu disidem dua taun lilana, rumegang namasingmasing atina ngabuah amis-peuheur.
Takdir teu beunang dipungkir, cinta datang teu nyaho di wayah, katresna norojol lain waktuna. telat. Nalika Neela keur rumah tangga, boga anak opat sedengkeun Rafi jajaka nukeur neangan kembang pibatureun hirup, dipanggihkeun di dunya teu nyata, pesbuk, sms, jeung teteleponan geus ngahudang katresna maranehna.
Dua taun lilana silih asah silih asih, najan jangji mo rek papanggih, da apal kana temah wadi, sadar kana masingmasing diri. Tapi Cinta teu beunang diulahulah, lir gelas kosong, unggal waktu keclakkeclak katresna minuhan hatena, tug nepi kadua taun lilana. poe ieu, pasosore maranehan teu kawawa nahan kasono, mutuskeun papanggih di wates September tapal beurang jeung peuting.
Tepung munggaran jeung panungtungan, mungkas sagala carita nu dua taun lilana dicutat na megamega, dua taun lilan sora jeung tulisan silih geuingkeun silih ingetan, dua taun lilana hate Neela rerencepan nyelapkeun Rafi di satukangeun salaki jeung budakbudakna. Dua taun lilana maranehna duaan nyidem kembang samoja, bodas, seungit ngan teu pantes hirup na pakarangan.
Tibelat.
Cinta nudatang telat, kudu dipungkas najan beurat.
Pananya Neela ngagantung na mega beureum, angin mawa dalingding kapeurih ati ngusap dangdaunan. Holodo nyeuseup sakumna cai na kulit sawah; bareulah lir hate Neela Jeung Rafik.
Rafik males ngaranggeum ramo Neela nu cebrek kukesang tiis, geugeut lir layung jeung beureumna.
"Rupina urang..."
Panon Rafi peureum nahan cimata nu teu kabendung, maseuhan pipi. Ngaharep cimata bisa ngamalirkeun kapeurih ati nu ngageugeuh sukma. Angin ngarangkul jeung ngusapan maranehna nalika Rafi neruskeun ucapanana,
"Rup-ru-pi na urang kedah carita cinta urang,geulis..."
Teu kawawa cimata bedah ngabanjiran halodo panjang, Rafi jeung nela silih rangkul geugeut, tipepereket. Sagala rasa nu disidem dua taun lilana, rumegang namasingmasing atina ngabuah amis-peuheur.
Takdir teu beunang dipungkir, cinta datang teu nyaho di wayah, katresna norojol lain waktuna. telat. Nalika Neela keur rumah tangga, boga anak opat sedengkeun Rafi jajaka nukeur neangan kembang pibatureun hirup, dipanggihkeun di dunya teu nyata, pesbuk, sms, jeung teteleponan geus ngahudang katresna maranehna.
Dua taun lilana silih asah silih asih, najan jangji mo rek papanggih, da apal kana temah wadi, sadar kana masingmasing diri. Tapi Cinta teu beunang diulahulah, lir gelas kosong, unggal waktu keclakkeclak katresna minuhan hatena, tug nepi kadua taun lilana. poe ieu, pasosore maranehan teu kawawa nahan kasono, mutuskeun papanggih di wates September tapal beurang jeung peuting.
Tepung munggaran jeung panungtungan, mungkas sagala carita nu dua taun lilana dicutat na megamega, dua taun lilan sora jeung tulisan silih geuingkeun silih ingetan, dua taun lilana hate Neela rerencepan nyelapkeun Rafi di satukangeun salaki jeung budakbudakna. Dua taun lilana maranehna duaan nyidem kembang samoja, bodas, seungit ngan teu pantes hirup na pakarangan.
Tibelat.
Cinta nudatang telat, kudu dipungkas najan beurat.
Sabada Hujan Pasosoré
Pasosoré bada hujan. Langit béngras, méga bodas jiga kapas, ting alabring ka kulonkeun.
Enung jeung Adul dariuk na babancik sisi sawah. Angin malibir, ngusap kararas, gigireun rungkun juru kotakan beh kidul. Reumis ngagaréndang, tinggurilap lir permata kasorot panon poé nu séséléké dina daun cau nu rarawis. bancet récét, papatong jeung kukupu aleuntreup na kacang ...panjang na galengan. Manuk piit ucang-uncang na gagang pare nu ngemploh hejo.
Bari tungkul, Ramo Enung ngopepang ngomé tungtung baju. Pameunteu alum, cipanon ngawahangan na juru mata.
'kang...',
Haroshos méh teu kadéngé .
Adul ngalieuk. Neuteup bari haté ratug ningal galagat bébéné nu teu biasa.
“Kumaha Nung?"
Adul daria ngahaminan. Diukna ngised semu nyanghareup. Gap, ramo Enung nu di renggeum. geugeut.
anging leutik ngahiliwir, memetot buuk Enung nuhideung meles.
ramo Enung nu ngalancip eurih malik ngarames ramo Adul. Teu kungsi lila awak Enung ngagibrig lir nu panas tiris, cipanon murubut maseuhan pingpingna, bari nyegruk Enung nyarita,
“'Tos sasasih abdi ngandeg kang...”
@banjar2011
Enung jeung Adul dariuk na babancik sisi sawah. Angin malibir, ngusap kararas, gigireun rungkun juru kotakan beh kidul. Reumis ngagaréndang, tinggurilap lir permata kasorot panon poé nu séséléké dina daun cau nu rarawis. bancet récét, papatong jeung kukupu aleuntreup na kacang ...panjang na galengan. Manuk piit ucang-uncang na gagang pare nu ngemploh hejo.
Bari tungkul, Ramo Enung ngopepang ngomé tungtung baju. Pameunteu alum, cipanon ngawahangan na juru mata.
'kang...',
Haroshos méh teu kadéngé .
Adul ngalieuk. Neuteup bari haté ratug ningal galagat bébéné nu teu biasa.
“Kumaha Nung?"
Adul daria ngahaminan. Diukna ngised semu nyanghareup. Gap, ramo Enung nu di renggeum. geugeut.
anging leutik ngahiliwir, memetot buuk Enung nuhideung meles.
ramo Enung nu ngalancip eurih malik ngarames ramo Adul. Teu kungsi lila awak Enung ngagibrig lir nu panas tiris, cipanon murubut maseuhan pingpingna, bari nyegruk Enung nyarita,
“'Tos sasasih abdi ngandeg kang...”
@banjar2011
Pamajikan TKW
Peuting jempling réhé combrék. Lembur kuring ngajéngjéhé teu empés-empés. Bulan sapasi sakali-kali méletét na sela-sela méga kulawu. Angin ting gilisir mamapay eurih ngahudangkeun kararas, tingkulisik, ting keresek, ngeundeuk-ngeundek daun kalikiria;bauna ngeteyep ngaliwatan liang bilik kamer.
Geus lila gaang teu ngéar, tinggal cihcir silih udag na tangkal loa. Embé ngabérélé di tungtung lembur, sisi sawah. Haleuang bueuk na tangkal waru, pipir imah nanambah simpé haté.
Lamat-lamat sora jentréng kacapi dina radio transistor dalapan ban, di imah tatangga, ngoétan haté, nyeuseuit ati. peurih.
Bari ngais budak nu gering panas tisareupna keneh, cipanon teu wasa ditahan. reumbay. Haté ngajerit,
”Jungjunan, iraha mulang?”
Geus lila gaang teu ngéar, tinggal cihcir silih udag na tangkal loa. Embé ngabérélé di tungtung lembur, sisi sawah. Haleuang bueuk na tangkal waru, pipir imah nanambah simpé haté.
Lamat-lamat sora jentréng kacapi dina radio transistor dalapan ban, di imah tatangga, ngoétan haté, nyeuseuit ati. peurih.
Bari ngais budak nu gering panas tisareupna keneh, cipanon teu wasa ditahan. reumbay. Haté ngajerit,
”Jungjunan, iraha mulang?”
Hanas
Ti Wulan aya nu nyirorot buburicakan. Teu sirik najong gelas cikopi nu disanghareupan, kuring lumpat bari tatanggahan. Nu nyirorot atrat katojo cahya wulan kebat ka lebah astana. Poho kasieun pikir jimat pédah malem jumaah, beretek lumpat lir singa ngudag kijang.
Usaha teu mubah méméh nu nyirorot neumbrag lemah leungeun geus namprak, nyanggap.'jéprak!' saking tarik nuragrag sada nu beulah, nyatana ngabayabah, cepel tur baseuh, ngaleméréh kana pigeulangan. teu kungsi lila aya sora tan katingal,
" Hihihi...Kop tampanan podol ucing uing!"
Sora nini nyirihil.
@banjar2011
Usaha teu mubah méméh nu nyirorot neumbrag lemah leungeun geus namprak, nyanggap.'jéprak!' saking tarik nuragrag sada nu beulah, nyatana ngabayabah, cepel tur baseuh, ngaleméréh kana pigeulangan. teu kungsi lila aya sora tan katingal,
" Hihihi...Kop tampanan podol ucing uing!"
Sora nini nyirihil.
@banjar2011
Teu Walakaya ( Akhirnya Versi Sunda)
Kukitunamah uyuhan hirup kénéh gé. Ungal waktu disiksa, unggal mangsa dikakaya. Diawur mah diawur ngan kumaha bisa ngahuap ari dikungkung mah. Saking ku teu kuatna malah kungsi rék nelasan diri ku ngagantung karep na tangkal jéngkol pipireun imah. Ngan untungna ka tangén ku Mang Juha nu rék nyadap. Bedo wé antukna.
Timangsa ka mangsa awakna beuki ngorotan, tatuna beuki gudawang. Di kamarna, ramat ting karayap na tembok pulas biru campur lukut. Bau supa, hangsuer, koweh jeung bau awakna campuh parebut tempat dina pangambeu. Manéhna ceurik balilihan. Kalan-kalan seuseurian sorangan, keukeuleuweuhan, ngobrol sorangan.
Kolémbar deui saurang wanoja, maké dangdanan pangantén, ngjingjing gobang. Digéndéng saurang lalaki. Imut ngagelenya, leumpang kahareupeun manéhna. Bari keclas gobang ditigasken keuna pisan kana haté manehna.
Barawak!.
Tatuna nyiklak dui, gudawang deui. Jerit manéhan ngajerit. Ceurik balilihan.
"Téga anjeun jungjunan! Tega! Anjeun sulaya! Naon atuh dosa akang jungjunaaaan!"
Brak!
Panto kamerna muka. Indungna ngajerit, terus kapiuhan. Lanceuk awéwéna ngocéak bari nangkeuup suku adina nu ngagantung.
Asep Opat taun nandangan gering batin, perlaya digantung karep ku kapeurih di tingal kawin bébéndéna. Teu basa, teu carita.
Timangsa ka mangsa awakna beuki ngorotan, tatuna beuki gudawang. Di kamarna, ramat ting karayap na tembok pulas biru campur lukut. Bau supa, hangsuer, koweh jeung bau awakna campuh parebut tempat dina pangambeu. Manéhna ceurik balilihan. Kalan-kalan seuseurian sorangan, keukeuleuweuhan, ngobrol sorangan.
Kolémbar deui saurang wanoja, maké dangdanan pangantén, ngjingjing gobang. Digéndéng saurang lalaki. Imut ngagelenya, leumpang kahareupeun manéhna. Bari keclas gobang ditigasken keuna pisan kana haté manehna.
Barawak!.
Tatuna nyiklak dui, gudawang deui. Jerit manéhan ngajerit. Ceurik balilihan.
"Téga anjeun jungjunan! Tega! Anjeun sulaya! Naon atuh dosa akang jungjunaaaan!"
Brak!
Panto kamerna muka. Indungna ngajerit, terus kapiuhan. Lanceuk awéwéna ngocéak bari nangkeuup suku adina nu ngagantung.
Asep Opat taun nandangan gering batin, perlaya digantung karep ku kapeurih di tingal kawin bébéndéna. Teu basa, teu carita.
Akhirnya
Sejauh ini masih bertahan juga sudah terbilang kuat. Tiap waktu Ia tersiksa, stiap saat Ia dianiaya. Selera makannya hilang, badannya semakin kerontang. Bahkan satu waktu, saking tak tahannya dengan segala siksaan dan kepedihan, Ia memutuskan untuk gantung diri di Pohon Jengkol di belakang rumahnya. Untung saja saat itu, Mang Juha yang akan menyadap Nira, menemukannya. Ia gagal bunuh diri.
Waktu kewaktu terus berjalan. Kondisi fisiknya terus melemah. badannya semakin kurus saja. Di dalam kamar, sarang labalaba merayap-rayap di segenap penjuru. Bau tembok yang lembab, bau jamur, pesing dan bau badannya yang sekian lama tak terkena air, memburu berebut penciuman. Ia menangis histeris, tersedu. Kadang juga teratawa sendri, berteriak-teriak dan ngomong sendiri.
Kembali, seorang gadis dengan gaun pengantin putih, menjijing sebilah pedang. Digandeng seorang lelaki menghampirinya.
Cap! Pedang di tibaskan tepat ke jantungnya, dan lalu pergi bergandengan meninggalkan luka yang semakin mengaga di jantungnya, perih, pedih. Dan ia histeris, menjerit, menangis tersedu. Dengan sisa suaranya yang payah ia berucap.
"Enkau tega kasih! Kau begitu tega! Kamu telah ingkari janjin kita kasiiiiih!"
***
Brug!
Pintu kamar di dobrak dari luar. Ibunya menjerit, lalu pingsan. Kaka perempuannya meratap pilu di kaki adik lelakinya yang menggantung diri dikamarnya.
Empat tahun menahan kepedihan batin Asep tak kuasa bertahan lebih lama. Ia tewas gantung diri dengan mendekap derita khianat cinta. Kekasih menikah dengan lelaki lain. Tanpa kabar tanpa bicara sebelumnya.
Waktu kewaktu terus berjalan. Kondisi fisiknya terus melemah. badannya semakin kurus saja. Di dalam kamar, sarang labalaba merayap-rayap di segenap penjuru. Bau tembok yang lembab, bau jamur, pesing dan bau badannya yang sekian lama tak terkena air, memburu berebut penciuman. Ia menangis histeris, tersedu. Kadang juga teratawa sendri, berteriak-teriak dan ngomong sendiri.
Kembali, seorang gadis dengan gaun pengantin putih, menjijing sebilah pedang. Digandeng seorang lelaki menghampirinya.
Cap! Pedang di tibaskan tepat ke jantungnya, dan lalu pergi bergandengan meninggalkan luka yang semakin mengaga di jantungnya, perih, pedih. Dan ia histeris, menjerit, menangis tersedu. Dengan sisa suaranya yang payah ia berucap.
"Enkau tega kasih! Kau begitu tega! Kamu telah ingkari janjin kita kasiiiiih!"
***
Brug!
Pintu kamar di dobrak dari luar. Ibunya menjerit, lalu pingsan. Kaka perempuannya meratap pilu di kaki adik lelakinya yang menggantung diri dikamarnya.
Empat tahun menahan kepedihan batin Asep tak kuasa bertahan lebih lama. Ia tewas gantung diri dengan mendekap derita khianat cinta. Kekasih menikah dengan lelaki lain. Tanpa kabar tanpa bicara sebelumnya.
Tunggara
Ngahérang neuteup lalangit kamer. Bruh-bréh lalampahan nu geus kasorang. Leketey haténa ngaleketey nalika inget kana kajadian tadi subuh.
Angin ipis nebak dangdaunan, ting kulisik. Bancét récét, jangkrik ngingkring, kalan-kalan sora buek disada na tangkal waru sisi kulah. Na luhur dipan Nining banjir cimata, teu wani bekas, beungeut di suksrukkeun kana bantal. Bohlam lima wat nu geus teu hérang deui belingna, kakalicesan jiga nu rék pareum.
Peuting beuki jempling, Angin jiga nu eureun ngarenghap. Bancét teuing kamarana, pon nyakitu deui buek teuing kamana losna. Tapi haté Nining beuki asa disosoék, pikiran pagaliwota, tingceuleuweung tingkoceak, antukna Nining anjog ka biwir gawir. Jiwana teu mampu nahan kasedih, sukmana teu kuat nahan kapeurih, pikiranna teu bisa leupas miceunan gambaran-gambaran kalakuan bapa téré tadi subuh ka dirina, sanggeus nganteurkeun indungna ka pasar. Haroshos ambekannana, rogok kumisna, ranggeuman ramo-ramo kasarna karasa lir hinis nurihan sakujur awakna.
Kapeurih Nining beuki ngajadi, mana bréh kagambar indungna, luat léét késang néangan kipaya di pasar, demi manéhna, demi bapa téréna nu teu boga gawé.
Teu kawawa nandangan tunggara, Nining ngajerit maratan langit, bari neunggarkeun sirah kana tembok kamar satakerna. Nining palastra guyang cimata.
Angin ipis nebak dangdaunan, ting kulisik. Bancét récét, jangkrik ngingkring, kalan-kalan sora buek disada na tangkal waru sisi kulah. Na luhur dipan Nining banjir cimata, teu wani bekas, beungeut di suksrukkeun kana bantal. Bohlam lima wat nu geus teu hérang deui belingna, kakalicesan jiga nu rék pareum.
Peuting beuki jempling, Angin jiga nu eureun ngarenghap. Bancét teuing kamarana, pon nyakitu deui buek teuing kamana losna. Tapi haté Nining beuki asa disosoék, pikiran pagaliwota, tingceuleuweung tingkoceak, antukna Nining anjog ka biwir gawir. Jiwana teu mampu nahan kasedih, sukmana teu kuat nahan kapeurih, pikiranna teu bisa leupas miceunan gambaran-gambaran kalakuan bapa téré tadi subuh ka dirina, sanggeus nganteurkeun indungna ka pasar. Haroshos ambekannana, rogok kumisna, ranggeuman ramo-ramo kasarna karasa lir hinis nurihan sakujur awakna.
Kapeurih Nining beuki ngajadi, mana bréh kagambar indungna, luat léét késang néangan kipaya di pasar, demi manéhna, demi bapa téréna nu teu boga gawé.
Teu kawawa nandangan tunggara, Nining ngajerit maratan langit, bari neunggarkeun sirah kana tembok kamar satakerna. Nining palastra guyang cimata.
Tepang Lébah Pengkolan
Lebah pengkolan kuring amprok jeung manéhna téh. Wanoja, kembang désa anu jadi parebutan para pamuda, lain ukur ti désa kuring tapi ti mana-mendi. Kuring sorangan geus rada lila neundeun haté ka manéhna
Lebah pengkolan, gas dilaonan, awak semu médéng ka katuhu. Teuing kumaha mimitina, ingetinget,"Dug!" Sora tarik naker. Satuluyna kuring teu inget nanaon.
Hawarhawar kadéngé sora nu humaregung, sora awéwé, gigireun. Najan sirah lanjung, jero dada asa dipeureut, maksakeun beunta. Bréh, Néng Yéni, kembang désa, wanoja nu dipicamcam ngagolér gigireun, tarang baloboran getih, irung jeung juru biwir nyakitu deui, panon buburilengan, awakna ngagibring jiga nu setep.
Les. Kuring teu inget di bumi alam.
@Banjar januari 2012
Lebah pengkolan, gas dilaonan, awak semu médéng ka katuhu. Teuing kumaha mimitina, ingetinget,"Dug!" Sora tarik naker. Satuluyna kuring teu inget nanaon.
Hawarhawar kadéngé sora nu humaregung, sora awéwé, gigireun. Najan sirah lanjung, jero dada asa dipeureut, maksakeun beunta. Bréh, Néng Yéni, kembang désa, wanoja nu dipicamcam ngagolér gigireun, tarang baloboran getih, irung jeung juru biwir nyakitu deui, panon buburilengan, awakna ngagibring jiga nu setep.
Les. Kuring teu inget di bumi alam.
@Banjar januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)